MENJAWAB ZAKIR NAIK: YESUS TIDAK MATI! BENARKAH?


Zakir Naik telah mengunjungi Indonesia.  Ia mengunjungi Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di Dunia, untuk tujuan berdakwah. Uniknya, Zakir Naik dalam safari dakwahnya memberikan prioritas khusus pada nonmuslim. Kaum nonmuslim mendapat undangan untuk hadir dan bahkan keleluasaan untuk bertanya dalam setiap acara yang dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia. Bahkan konon banyak kaum nonmuslim yang kemudian mengucapkan kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim dalam safari dakwah tersebut. Berikut beberapa portal berita online yang saya baca menggambarkan hal di atas:


Nah, mengapa saya ikut-ikut mengomentari ceramah Zakir Naik? Apakah karena banyak orang Kristen yang meninggalkan agama Kristen? – Bukan itu alasannya, sebab Alkitab sudah menyatakan sebelumnya bahwa “ ... banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.” (Matius 24:10). Jadi jikalau banyak yang meninggalkan agama Kristen, maka itu menunjukkan kebenaran Alkitab – Apakah karena beberapa ceramahnya menyerang Alkitab dan iman Kristen? – Sorry, bukan itu juga alasannya. Sebab selama berabad-abad Alkitab dan iman Kristen sudah diserang. Dan jika hidup ini saya habiskan untuk membela Alkitab dan Iman Kristen, maka sia-sialah hidupku. Alkitab dan Iman Kristen akan membela dirinya sendiri, karena mereka kebenaran. Justru kebenaran itulah yang seharusnya membela kehidupan saya, bukan sebaliknya. Zakir Naik hanya salah satu tokoh dunia yang menyerang Alkitab dan iman Kristen. Sebelum dia sudah banyak dan sesudah dia mungkin masih akan ada lagi.

Saya memutuskan mengomentari ceramah Zakir Naik karena iseng aja. Sudah lama ndak nulis di blog. Pas lagi pengen nulis, nyari nyari tema apa yang ringan, tidak berat, dan bisa cepat nulisnya. Keingatlah pernah nonton Youtube potongan ceramah Zakir Naik. Nah jadi deh ikut-ikutan komentarin ceramah dia. Teman-teman bisa lihat potongan ceramah Zakir Naik yang saya tonton di Youtube pada link ini https://www.youtube.com/watch?v=c0jWJ_2VUus.  

Berikut ini saya tulis lagi sebagian transkrip subtitle Indonesia yang terpampang di video tersebut. Transkrip ini cuma sebagian juga sih hehehe, mulai dari menit 03:59 – 04:51 ya (jadi senyam-senyum sendiri nih, kebayang kasus BY yang potong video Pemprov DKI trus menghilangkan kata “pakai” xixixi). Berikut transkrip subtitle Indonesianya:
·         Tidak pernah disebutkan dalam kisah ini bahwa Yesus mati.
·         Jadi apa yang kita ketahui dari kisah ini, jika Yesus harus memenuhi nubuat Yunus,
·         Bahwa sebagaimana Yunus berada tiga hari tidak malam di perut ikan,
·         Begitu juga anak manusia (Yesus) berada tiga hari tiga malam di perut bumi.
·         Maka Yesus Kristus a.s haruslah hidup.
·         Jika dia mati, itu artinya Yesus Kristus a.s berbohong.
·         Dalam Gospel Matius 12:40, Yesus bernubuat
·         “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi  tiga hari tiga malam.”
·         Jika Yunus hidup, maka dia juga harus hidup.
·         Jadi apa yang kuasumsikan ketika membacanya sebagai seorang pelajar,
·         Setelah melakukan penelitian, aku tidak percaya bahwa Yesus Kristus a.s berbohong
·         Jadi untuk memenuhi nubuatnya, aku harus percaya bahwa dia hidup,
·         Dia ditempatkan di tiang salib, namun dia tidak mati.

Benarkah Yesus menubuatkan bahwa dirinya tidak mati, berdasarkan tanda nabi Yunus, dalam Matius 12:40?
            
Supaya lebih jelas, yuk kita lihat utuh nukilan yang dibicarakan oleh Zakir Naik dalam Injil Matius tersebut:
“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” Matius 12:38-42.

           Sekali lagi, benarkah Yesus menubuatkan bahwa dirinya tidak mati, berdasarkan tanda nabi Yunus, dalam Matius 12:40?

Berikut Sanggahan saya:

1.       Sanggahan melalui Pendekatan Analisa Kalimat dan Kata pada teks Matius 12:40.
Perhatikan kalimat nubuat Yesus berikut, “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” Kalimat tersebut saya coba pilah kesejajarannya plus dilampirkan teks Yunaninya (supaya kelihatan keren hehehe) demikian:

Frasa perbandingan
Sebab seperti
ὥσπερ γὰρ
demikian juga
οὕτως
Subjek
Yunus
Ἰωνᾶς  
Anak Manusia
ὁ Υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου
Predikat

tinggal
ἦν 
tinggal
ἔσται
Keterangan Tempat
di dalam perut ikan 
ἐν τῇ κοιλίᾳ τοῦ κήτους
di dalam rahim bumi
ἐν τῇ καρδίᾳ τῆς γῆς
Keterangan Waktu
tiga hari tiga malam
τρεῖς ἡμέρας καὶ τρεῖς νύκτας
tiga hari tiga malam
τρεῖς ἡμέρας καὶ τρεῖς νύκτας.
       
        Dari tabel di atas terlihat ada dua kategori yang sama (meski dalam teks Yunaninya berbeda), yaitu kategori predikat dan keterangan waktu. Yesus dan Yunus sama-sama “tinggal” (“ἦν” dan “ἔσται”).  Kata “ἦν” dan “ἔσται” berasal dari kata dasar Yunani yang sama yaitu “εἰμι” (baca: eimi), yang bisa bermakna: ada, adalah, berada, tinggal, terdapat, terjadi, menjadi, mungkin, melambangkan, sama seperti, artinya, yaitu.

        Kemungkinan besar inilah yang dimaknai Zakir Naik sebagai “hidup.” Yunus tinggal di perut ikan berarti Yunus hidup di perut ikan. Demikian juga dengan Yesus tinggal di rahim bumi berarti Yesus hidup di rahim bumi.
https://upload.wikimedia.org/
wikipedia/commons/1/1d/
Dr_Zakir_Naik.jpg

1.       Apakah “εἰμι” berarti “hidup”? Tidak. Kata “hidup” yang biasa digunakan dalam bahasa Yunani adalah “ζάω” (baca zao). Misalnya yang digunakan dalam Matius 4:4; 9:18; 16:16.
2.       Apakah yang menggunakan “εἰμι” (berarti “tinggal”) merupakan sesuatu yang selalu hidup? Tidak juga. Dalam beberapa bagian Alkitab, kata “εἰμι” (dalam berbagai bentuk) diterapkan pada benda mati atau sesuatu yang sudah mati, contohnya: Matius 6:21 (keberadaan harta); 24:28 (keberadaan bangkai).  

Jadi pada Matius 12:40, Yesus tidak menubuatkan diri hidup dengan memakai kata “tinggal” (Yun. εἰμι) karena jika Ia bermaksud demikian tentulah Ia menggunakan kata “hidup” (Yun. ζάω). Berdasarkan analisa penggunaan kata “εἰμι,” kata ini tidak selalu diterapkan pada sesuatu yang hidup. Kata “εἰμι” bisa juga dipakai dalam atau bersama sesuatu yang mati atau benda mati. Dengan kata lain, sesuatu yang tinggal tersebut bisa sesuatu yang hidup maupun sesuatu yang mati.    
                Apakah sesungguhnya yang Yesus nubuatkan atau jadikan tanda pada peristiwa Nabi Yunus? Jawabannya adalah keterangan waktunya, yaitu “tiga hari tiga malam.” Yunus tinggal di perut ikan tiga hari tiga malam, Yesus tinggal di rahim bumi tiga hari tiga malam. Inilah yang Yesus nubuatkan sesungguhnya. Yesus menubuatkan bahwa Ia mati, berada di kubur dan bangkit pada hari ketiga. Inilah tanda bagi ahli Taurat dan orang Farisi.

2.       Sanggahan melalui Analisa Kitab Matius secara Keseluruhan
Kitab Matius menunjukkan tentang kematian Yesus di bagian lainnya dari kitab ini. Yesus menubuatkan tentang pembunuhan diriNya dalam Matius 16:21; 17:23. Yesus berbicara tentang kebangkitanNya dari antara orang mati dalam Matius 17:9. Malaikat menyatakan bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati dalam Matius 28:7. Logika penjagaan kubur Yesus dimaksudkan untuk mengantisipasi kebangkitan Yesus dari kematian dalam Matius 27:62-66, pada saat yang sama mengantisipasi keluar atau dicurinya mayat Yesus.

3.       Sanggahan melalui perbandingan dengan kitab Perjanjian Baru dan Lama.
Nubuat kematian Yesus dan bahkan Yesus menubuatkan kematianNya sendiri, juga ditulis dalam bagian Alkitab lainnya. Yesaya 53:9, “Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.” Markus 9:9, “Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.” Yohanes 19:33, “tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya.”



REFLEKSI DARI SEMUA INI


1.       Zakir Naik hanya satu dari sekian banyak penyerang iman Kristen, jadi tak perlu panik dengan kehadirannya
2.       Kesalahan umum para penyerang iman Kristen adalah pada pemahaman yang dangkal dan tidak detil. Memang demikianlah naturnya: Sibuk cari Kesalahan membuat Sulit dapat Kebenaran.
3.       Bagi yang sudah tinggalkan Iman Kristen, saya menghargai pilihan anda – itu sudah dinubuatkan.
4.       Alasan orang yang mudah meninggalkan keyakinan Iman Kristen adalah 1. Jauh dari Persekutuan/Gereja (Kristen Jauh) 2. Tidak mendalami Iman Kristen (Kristen Kulit)
5.       Gereja tolong dong perhatikan pembinaan Iman Kristen. Jangan baru kebakaran jenggot kalo jemaat sudah pindah keyakinan. Investasi gereja pada di Orang sebagai Bait Allah, bukan pada Bangunan sebagai Bait Allah.

6.       Bagi True Seeker, Rajin Menggali Alkitab aja cukup kok mengatasi Penyerang Iman (pay attention to the detail)

PESONA KUBURAN

Ada pekuburan pada masa kini tidak lagi nampak menakutkan. Bahkan di beberapa daerah, pekuburan dibuat begitu indah – jauh lebih indah dari beberapa pemukiman penduduk. Ada rerumputan yang selalu hijau, bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya, dan pepohonan yang tertata dengan rapi yang tentu saja menambah kesejukan pekuburan tersebut.
http://www.dicconbewes.com/2011/10/31/
the-secret-of-swiss-cemeteries/
Namun kita semua tahu apa yang nampak di permukaan pekuburan berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalamnya. Di dalam pekuburan tersebut terdapat bangkai mayat dan tulang belulang. Kesan yang berbeda akan tampak tatkala bangkai dan tulang belulang tersebut ditampilkan di permukaan pekuburan. Tak ada lagi kesan keindahan, kerapian, dan kesejukan yang hadir. Yang ada hanya perasaan jijik, kotor, dan ngeri.
 Demikianlah realitas pesona yang ditampilkan oleh orang-orang munafik – pesona kuburan. seorang yang munafik berusaha terlihat baik dimata orang lain. Ia menyimpan pelanggaran, korupsi, kebohongan, kebencian, hawa nafsu, perselingkuhan, serta berbagai kejahatannya, lalu membungkusnya dengan amal, persembahan, sumbangan, rutinitas ibadah dan sembahyang, perkataan sopan, penampilan fisik menarik, yang dimata orang lain menimbulkan kesan luar biasa.
 “Celaka” adalah sebuah kata yang tepat untuk orang munafik. Sebuah seruan yang lahir dari kepedihan hati para korban perbuatan orang munafik, sekaligus sebuah seruan peringatan akan hadirnya bencana penghukuman yang setimpal dengan kemunafikan tersebut. Kemunafikan pasti mendapatkan balasan sepadan pada waktunya. Sebuah balasan telah menanti, sebuah balasan yang akan menguak ‘pesona kuburan’ orang munafik, sebuah balasan yang mengubah akan keindahan menjadi kejijikan.
Kejahatan bukan untuk disimpan lalu dibungkus dengan kebaikan, melainkan untuk ditanggalkan dalam penyesalan dan pertobatan. Ada celaka menunggu orang yang munafik, di sisi lain, ada berkat menanti orang yang rendah hati mengakui kesalahan dan kegagalan, lalu berjuang memperbaikinya.

Celakalah kamu, ... hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan (Matius 23:27-28).

PERBANTAHAN VS KETENTERAMAN (Amsal 17:1)


Amsal 17:1
Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman,
Dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan


sumber: google.com
Apakah saudara setuju pernyataan Salomo dalam Amsal ini? Setujukah bahwa sekerat roti kering disertai dengan ketenteraman baik daripada makanan daging serumah disertai  dengan perbantahan? Dengan kata lain jika diminta memilih sekerat roti kering disertai dengan ketenteraman atau makanan daging serumah disertai  dengan perbantahan, mana yang menjadi pilihan saudara?
Dari beberapa orang yang saya minta memilih, tidak ada yang memilih makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.

Daging Serumah serta Perbantahan
Sebuah rumah atau bayit”  sebenarnya bisa juga merujuk pada sebuah istana. Istana yang penuh dengan daging. Dagingnya adalah daging dari hewan-hewan tambun yang disembelih. Ada versi terjemahan melihat daging-daging tersebut adalah daging yang dihidangkan dalam sebuah pesta perjamuan. Jadi kemungkinan yang dimaksud adalah sebuah rumah, bahkan mungkin istana, yang penuh dengan daging-daging dari hewan tambun yang disajikan seperti dalam sebuah pesta perjamuan.
Sedangkan perbantahan (kata dasar Ibraninya: rib) merujuk pada pertikaian keras, pendakwaan di pengadilan, pertengkaran, perkelahian, bahkan peperangan. Dalam perbantahan, pihak yang terlibat masing-masing merasa benar dan pihak yang lain pasti salah. Perbantahan adalah sebuah kondisi pertikaian dimana pihak yang terlibat di dalamnya merasa benar sepenuhnya dan yang lain salah sepenuhnya.
Apa kaitan perbantahan dan sebuah istana yang penuh dengan daging hewan tambun dalam sebuah pesta perjamuan?
sebuah rumah, atau kemungkinan besar istana, yang penuh dengan daging hewan tambun merupakan simbol pencapaian dalam hidup yang bisa menimbulkan  perasaan paling benar dari yang lain. Di istana itu ada jabatan dan kekuasaan yang kerap membuat pemiliknya merasa paling benar. Di tempat itu juga ada kekayaan, uang banyak dan investasi besar yang seringkali membuat merasa paling benar. Di sekitar meja pesta perjamuan berdiri para orang-orang tua berpengalaman yang banyak makan asam dan garam yang kemudian merasa tidak mungkin salah, dan harus dipatuhi. Daging hewan tambun itu disajikan bagi orang-orang cerdas yang menempuh pendidikan ditempat yang jauh, gelar  tinggi memastikan bahwa mereka selalu benar.
Pencapaian-pencapaian hidup inilah, baik itu jabatan, kekayaan, pengalaman, gelar kerap membuat seseorang merasa selalu benar. Dan ujungnya pada perbantahan.
Kata Ibrani rib (yang artinya perbantahan) merupakan kata yang menyusun kata meriba. Meriba adalah tempat dimana Tuhan mengeluarkan air dari bukit batu. Pada peristiwa di Meriba, Israel telah mengalami banyak pencapaian.  Semua kebutuhan di padang gurun terpenuhi, makan manna dan daging puyuh, ada tiang awan dan tiang api. Padang gurun serasa melayani mereka. Kemudian sebuah masalah timbul, karena mereka kehabisan air minum.
Israel bertengkar dgn Musa dan Tuhan. Israel merasa diri mereka benar bahkan yang salah adalah Musa dan Tuhan. Mereka harus dilayani oleh Musa dan Tuhan. Tuhan dan Musa salah karena membawa mereka keluar dari Mesir dan mengembara di padang gurun dan menderita kehausan. Mereka menuduh Tuhan tidak ada melindungi mereka.
Realitanya, mereka mengembara 40 tahun karena mereka tidak percaya Allah sanggup mengalahkan musuh mereka. Mereka lebih percaya pada 10 pengintai yang menakuti mereka. Realitanya, mereka kemarin malam baru saja makan daging burung puyuh dan paginya menerima manna dari Tuhan. Ada tiang awan dan tiang api. Apakah TUhan tidak ada ditengah mereka?
Inilah ngerinya orang yang merasa diri selalu benar, Tuhan pun bisa ia salahkan.

Refleksi Pribadi
Sebuah rumah yang memiliki banyak pencapaian, berpotensi besar membawa pada perbantahan.  Sebuah rumah dengan orangtua yang punya banyak pengalaman, yang merasa pengalamannya membuatnya selalu benar , berpotensi melahirkan perbantahan. Anak selalu salah, anak selalu kurang bijaksana, keputusan orangtua yang harus selalu dipatuhi.  anak yang tidak tahan di rumah itu, meskipun rumah itu penuh dengan makanan, memilih meninggalkan rumah, lebih senang di luar rumah, sampai lupa pulang. Kalau pun ada anak yang tetap tinggal di rumah, maka ia akan mengalami depresi, tertekan.
Sebuah rumah dengan suami yang merasa dirinya selalu benar, karena ia sudah bekerja menghasilkan banyak uang.  Kemudian isteri juga merasa paling benar karena telah mengatur seisi rumah sehingga berjalan harmonis, isteri telah berjasa besar mengasuh anak-anak. Suami merasa isterinya salah karena tidak tunduk kepada suami, isteri merasa suaminya yang salah karena tidak mengasihi isterinya, seperti Kristus. Kalau begini keadaannya, perbantahan demi perbantahan akan terjadi. Tidak heran suami yang mulai kesal, lebih memilih lembur atau pulang kerja ke kebun lagi dari pada harus bertemu dengan isteri yang tidak tunduk pada suami. Isteri yang mulai bosan menghadapi suami yang selalu merasa benar. Mulai mencari aktivitas luar rumah, arisan, PKK, mungkin juga ibadah rumah tangga, KW. Tujuannya supaya tidak bertemu dengan suami yang merasa selalu benar. 
Lalu apakah artinya semua pencapaian-pencapaian itu, apa artinya rumah megah jika penghuninya tidak nyaman tinggal? Apa artinya makanan enak jika ditelan dengan kemarahan, depresi, perbantahan?

ITULAH sebabnya hampir semua orang yang jika disuruh pilih: sekerat roti dengan ketenteraman atau sebuah rumah penuh daging disertai perbantahan, maka tidak ada yang mau memilih pilihan kedua.  Karena seperti itulah dampaknya.


Sekerat Roti Kering disertai Ketentraman
Menariknya, orang yang diminta memilih – sekerat roti kering disertai ketentraman atau sebuah rumah yang penuh dengan daging disertai perbantahan – sedikit juga yang memilih sekerat roti kering disertai ketenteraman. Kebanyakan membuat dan memilih opsi sendiri: sebuah rumah yang penuh dengan daging disertai ketenteraman.
Hal yang sulit diterima adalah “sekerat roti kering.” Rotinya tinggal sekerat, sesobek. Rotinya juga sudah kering, artinya itu roti sisa yang disimpan karena tidak ada lagi roti baru. Di dalam sekerat roti kering, ada gambaran kemiskinan bukan kekayaan, ada gambaran keterbatasan bukannya pengalaman dan kemampuan yang banyak, ada gambaran kehampaan bukannya kekuasaan dan jabatan, ada cerminan kebodohan bukannya kecerdasan dari gelar yang tinggi.
Sedangkan ketentraman bermakna damai dan tenang. Damai bukan berarti tidak perbedaan, melainkan perbedaan membuat kedua belah pihak tidak dirugikan. Tenang bukan berarti tidak ada gejolak, tetapi gejolak itu berhasil diredam.
Mengapa salomo menyandingkan sekerat roti kering dengan ketenteraman? Sekerat roti kering bukanlah salah satu melainkan satu-satunya opsi mencapai ketenteraman. Hanya dengan kerelaan makan sekerat roti kering,  maka damai dan tenang bisa diraih.
Hanya orang rela nampak miskin, kendatipun kaya, yang bisa mengusahakan damai dan tenang itu. Hanya orang yang rela nampak terbatas, kendatipun banyak pengalaman, yang bisa mengusahakan ketenteraman. Hanya orang yang nampak hampa, kendatipun memegang jabatan dan posisi penting, yang bisa membawa ketenteraman.  Hanya orang yang rela nampak bodoh, kendatipun gelar dan pendidikan mumpuni, yang bisa mengusahakan kedamaian dan ketenangan.
Semakin kita menolak sekerat roti kering itu, semakin jauh kita dari ketenteraman. Inilah arti “mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba” yang dilakukan oleh Kristus. Yesus yang mempunyai kemuliaan ilahi, berkenan melayani ciptaannya; Ia yang harusnya ditinggikan di atas singgasana raja, memilih ditinggikan di atas tiang salib sebagai penjahat demi mengusahakan ketenteraman. Yesus yang maha tahu rela dianggap tidak tahu apa apa dan bahkan dianggap orang gila, demi tugas pendamaiannya. Yesus yang memiliki segalanya, NAMUN rela lahir di kandang domba, dalam pelayanannya tidak punya tempat meletakkan kepala, bahkan dikubur di kuburan pinjaman, demi menenangkan murka Allah atas hidup kita. Rela makan sekerat roti kering berarti meniru teladan Yesus.

Refleksi Pribadi
Sebuah rumah yang penghuninya rela makan sekerat roti kering adalah keluarga bergerak menuju ketenteraman. Suami, isteri, orangtua dan anak yang mau merendahkan hati dan menganggap dirinya tidak selalu benar dan bisa saja melakukan kesalahan. Belajar mendengar daripada didengar, melayani daripada dilayani, niscaya ada kedamaian dan ketenangan dalam rumah. Rumah itu dirindukan oleh penghuninya: bukan lagi sebagai house tetapi home.
Gereja dalam hal ini harus memberi teladan. Jika Mulai dari pendeta sampai jemaat rela makan sekerat roti kering, maka ada ketenteraman di gereja. Bagaimana mungkin ada ketenteraman jika pendeta merasa selalu benar? Bagaimana ada damai jika Majelis tidak mau mengalah, merasa punya pengalaman melayani, bertahun-tahun jadi majelis, maka ia pasti paling benar? Belum lagi jika Donatur gereja yang bicara, merasa suaranya seperti suara Tuhan, selalu harus ditaati. Apa lagi kalau pemegang kekuasaan di pemerintahan atau perusahaan, gereja dibuat seperti organisasi top-down, semua harus ikut kata bos. Kalau semua itu sudah ketemu, terjadilah perbantahan.
Saya berdoa supaya gereja dan keluarga Kristen bersatu dan merendahkan diri meniru Kristus. Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, Dari pada sebuah rumah yang dipenuhi daging disertai dengan perbantahan. Amin.